![]() |
| Udin Sape Bima saat membacakan puisi dalam kegiatan pentas kesenian di Kecamatan Sape. Karya sastranya kini resmi diarsipkan di Pustaka H.B. Jassin, Jakarta, menjadi catatan penting bagi perkembangan sastra Bima di tingkat nasional. |
BIMA, MIMBARNTB – Dunia sastra di Kabupaten Bima kembali menorehkan prestasi membanggakan. Salahuddin Al Ayyubi atau yang lebih dikenal dengan nama pena Udin Sape Bima, berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sastra nasional setelah karya puisinya resmi diarsipkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta.
Karya Udin termuat dalam buku "Syair Persahabatan Indonesia dan Malaysia" yang diterbitkan oleh Pustaka Senja Yogyakarta pada 2015. Buku yang memuat karya 100 penyair dari Indonesia dan Malaysia tersebut kini tercatat sebagai koleksi fisik Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, lembaga yang selama ini dikenal sebagai pusat arsip sastra terbesar dan paling bergengsi di Indonesia.
Masuknya sebuah karya ke dalam arsip H.B. Jassin bukanlah perkara mudah. Setiap karya yang disimpan harus melalui proses seleksi dan kurasi dengan mempertimbangkan kualitas sastra serta kelengkapan data penerbitan. Atas capaian tersebut, Udin tercatat sebagai penyair asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ketiga yang karyanya diarsipkan di Pustaka H.B. Jassin. Sebelumnya, terdapat nama Dinul Rayyes dari Sumbawa dan Kiki Sulistyo dari Lombok yang lebih dahulu mendapatkan pengakuan serupa.
Perbedaannya, karya Dinul Rayyes dan Kiki Sulistyo diarsipkan melalui buku tunggal, sedangkan karya Udin masuk melalui antologi bersama yang melibatkan penyair dari dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia.
Menembus Panggung Sastra Nasional
Perjalanan Udin di dunia sastra bukanlah proses yang instan. Selama 13 tahun berkarya, ia terus membangun reputasi melalui berbagai forum sastra, baik di tingkat regional maupun nasional.
Namanya pernah tercatat dalam Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI di Jambi pada 2012. Saat itu, ia menjadi salah satu dari sembilan penyair asal NTB yang berhasil lolos seleksi.
Dari hampir 3.000 puisi yang dikirimkan, hanya 300 karya yang dipilih oleh dewan kurator yang terdiri atas Acep Zamzam Noor, Dimas Arika Mihardja, dan Gus tf. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan penyair dari Indonesia serta sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Kamboja, Myanmar, dan Hong Kong.
Tidak hanya itu, Udin juga tercatat sebagai kontributor dalam antologi Dari Negeri Poci 4: Negeri Abal-Abal (2013) dan Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014). Komunitas Negeri Poci sendiri dikenal sebagai salah satu komunitas penyair paling berpengaruh di Indonesia. Antologi yang diterbitkan setiap tahun tersebut menjadi salah satu tolok ukur kualitas puisi nasional.
Melalui dua antologi itu, nama Udin sejajar dengan sejumlah sastrawan ternama Indonesia, seperti Soni Farid Maulana, Sutardji Calzoum Bachri, dan Joko Pinurbo.
Dua Puisi Lolos Seleksi
Dalam proses seleksi antologi Syair Persahabatan Indonesia dan Malaysia, Udin mengirimkan lima puisi. Dari jumlah tersebut, dua puisinya dinyatakan layak untuk dimuat dalam buku tersebut.
Salah satu puisi yang berhasil diterbitkan berjudul "Kau dan Waktu".
Buku itu disunting oleh Ewith Bahar dan Soni Farid Maulana, dua nama yang memiliki reputasi kuat di dunia sastra Indonesia.
Bagi Udin, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa penulis dari daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Perjalanannya di dunia kepenulisan dimulai sejak 2010, ketika masih berstatus mahasiswa di Universitas Mataram. Sejak saat itu, ia terus mengasah kemampuan menulis dan tidak pernah berhenti berkarya.
Produktif Menulis dan Mengabdi
Selain aktif menulis puisi, Udin juga telah menerbitkan sejumlah buku tunggal, di antaranya Senja Kabut Dalam Gelas, Meraih Mimpi Itu Mudah Cukup Berpikir Positif, The Power of Heart Republic, The Power of Mapping, serta Merajut Asa Bersama Anak Negeri.
Saat ini, buku keenamnya yang berjudul Menjadi Air di Tanah Kering masih dalam tahap penyuntingan.
Produktivitasnya tidak hanya terlihat melalui buku-buku yang diterbitkan. Sejumlah puisinya juga telah dimuat di media internasional, seperti New Times Malaysia dan Utusan Borneo Malaysia. Melalui karya-karyanya, Udin banyak mengangkat tema tentang cinta, pendidikan, politik, budaya, dan persoalan sosial.
Sekembalinya ke Kabupaten Bima, ia mendirikan Rumah Baca Salahuddin Al Ayyubi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya di wilayah terpencil. Aktivitas literasi yang dijalankannya juga mengantarkan dirinya meraih sejumlah penghargaan nasional. Ia bahkan kerap dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan literasi yang diselenggarakan oleh lembaga swadaya masyarakat, pemerintah daerah, maupun pemerintah provinsi.
"Ini bukan kemenangan saya sendiri. Ini kemenangan untuk Bima, untuk Sape, dan untuk Desa Sangia," ujar Udin.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kabupaten Bima agar tidak ragu untuk bermimpi dan berkarya. Menurutnya, keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.
"Jika karya bisa sampai ke Jakarta, maka harapan juga pasti bisa sampai ke sana," tutupnya.
Catatan Redaksi: Buku Syair Persahabatan Indonesia dan Malaysia tercatat sebagai koleksi fisik Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Jakarta dengan kode klasifikasi 811 SYA dan tersimpan di Koleksi Umum Lantai 5.


