![]() |
| Rapat Lintas Sektor Pendampingan Tata Kelola Program Kesehatan Tahun 2026 di Kota Bima, sebagai upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan program kesehatan masyarakat. |
KOTA BIMA — Upaya memperkuat tata kelola dan kualitas perencanaan pembangunan kesehatan di Kota Bima dilakukan melalui kegiatan pendampingan tata kelola program kesehatan tahun 2026. Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah rapat lintas sektor yang melibatkan Dinas Kesehatan, perangkat daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Rapat lintas sektor dijadwalkan berlangsung Selasa, 6 Oktober 2026, di ruang pertemuan Hotel Mutmainah, Kota Bima. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam perencanaan program kesehatan sekaligus menyelaraskan kebijakan kesehatan daerah dengan target pembangunan kesehatan nasional.
Pendampingan tersebut dilatarbelakangi masih kompleksnya tantangan pembangunan kesehatan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Persoalan ketimpangan status kesehatan, keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, sarana dan prasarana pelayanan, hingga belum optimalnya pembangunan berwawasan kesehatan membutuhkan perencanaan yang lebih terarah, berbasis data dan berkelanjutan.
Dalam kerangka pembangunan kesehatan nasional, pemerintah telah menetapkan sejumlah target prioritas, antara lain penurunan angka kematian ibu (AKI), prevalensi stunting, serta kasus tuberkulosis (TBC).
Data evaluasi pembangunan kesehatan menunjukkan persoalan tersebut masih membutuhkan perhatian serius. Prevalensi stunting nasional tercatat masih berada di atas target yang ditetapkan, sementara angka insidensi TBC juga masih tinggi. Kondisi itu menunjukkan pentingnya penguatan intervensi kesehatan yang dilakukan secara terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Karena itu, sinkronisasi perencanaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi salah satu fokus penting pendampingan. Perencanaan daerah diharapkan mampu menerjemahkan prioritas nasional ke dalam program dan kegiatan daerah dengan memperhatikan kebutuhan serta karakteristik wilayah.
Selain sinkronisasi program, penguatan kapasitas perencanaan juga menjadi perhatian. Perencanaan pembangunan kesehatan di daerah dituntut tidak hanya berorientasi pada penyusunan anggaran, tetapi harus mampu menjawab persoalan kesehatan berdasarkan data dan bukti di lapangan.
Melalui pendampingan ini, Kota Bima diarahkan agar mampu meningkatkan kualitas penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 dan Rencana Kerja (Renja) 2027 Dinas Kesehatan Kota Bima.
Kegiatan rapat lintas sektor bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam melakukan analisis situasi, pengumpulan dan pengolahan data kesehatan, penyajian data berbasis sistem informasi, hingga penyusunan indikator kinerja program kesehatan.
Selain itu, tim pendamping juga akan melakukan reviu terhadap dokumen Renstra 2025–2029 dan Renja 2027 Dinas Kesehatan Kota Bima.
Dengan penguatan tersebut, perencanaan program kesehatan diharapkan semakin berbasis bukti (evidence based), komprehensif, holistik dan terintegrasi. Perencanaan yang lebih baik diharapkan berdampak pada efektivitas penggunaan sumber daya serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Rapat lintas sektor melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan pelayanan kesehatan. Peserta antara lain Kepala dan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bima, tim perencanaan Dinas Kesehatan, para kepala puskesmas, sejumlah kepala bidang dan programer Dinas Kesehatan, unsur Rumah Sakit Daerah Kota Bima, Laboratorium Kesehatan, Bappeda, Bagian Organisasi, Inspektorat, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya.
Keterlibatan lintas sektor dinilai penting karena persoalan kesehatan tidak dapat ditangani hanya oleh sektor kesehatan. Faktor pendidikan, sosial, lingkungan, pertanian, pemberdayaan masyarakat, kependudukan hingga tata kelola pemerintahan turut memengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Dalam agenda yang telah disiapkan, peserta akan mendapatkan materi mengenai pendekatan One Health dalam program kesehatan, pemaparan RPJMD dengan fokus bidang kesehatan, serta program lintas sektor dalam Renstra dan Renja Dinas Kesehatan Kota Bima. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL).
Dorong Kesamaan Persepsi
Pendampingan diharapkan menghasilkan kesamaan persepsi antara tim pendamping dari Universitas Udayana dengan tim perencana Dinas Kesehatan dan kepala puskesmas di Kota Bima.
Selain itu, kegiatan ditargetkan mampu meningkatkan kemampuan SDM dalam menganalisis situasi kesehatan, mengelola serta menyajikan data kesehatan berbasis sistem informasi, dan menyusun indikator kinerja program secara lebih terukur.
Dengan demikian, perencanaan pembangunan kesehatan Kota Bima diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan dokumen perencanaan, tetapi benar-benar mampu menjadi instrumen untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat secara tepat sasaran, efektif dan berkelanjutan.


