![]() |
| Ketua Pepehani Kabupaten Bima, Taufik (kanan), saat berbicara saat rapat koordinasi berlangsung di Kantor Dinas Perhubungan NTB, Rabu (4/2/2026). |
Mataram, 4 Februari 2026 – Rapat koordinasi yang digelar di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Nusa Tenggara Barat (NTB) pada hari Rabu ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas permasalahan distribusi ternak, namun para peternak mengutarakan kekecewaannya karena persoalan klasik terus berulang tanpa solusi konkret.
Pihak yang hadir dalam pertemuan meliputi Dishub NTB, Dinas Peternakan NTB, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Pelindo, Kantor Karantina Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, sejumlah asosiasi peternak termasuk Persatuan Peternak Hewan Ternak NTB (Pepehani), Gabungan Peternak Hewan Ternak (Gapehani) se-kabupaten, Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Indonesia (APPSI) Kota Bima, perwakilan Polsek Lembar, serta Tim Percepatan Gubernur NTB.
"Masalah Sama Setiap Tahun, Kapan Ada Perubahan?"
Ketua Pepehani Kabupaten Bima, Taufik alias Aba Fik, secara tegas menyampaikan kekhawatirannya terkait keterbatasan armada kapal dan jadwal docking yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi arus pengiriman ternak. Menurutnya, rapat koordinasi yang rutin digelar belum memberikan dampak nyata bagi para peternak.
"Rapat ini hampir setiap tahun. Masalahnya tetap sama, armada kapal terbatas, ditambah lagi informasi docking kapal. Ini bagaimana mau bantu peternak?" ujarnya di ruang rapat Dishub NTB.
Aba Fik menegaskan bahwa kebijakan docking tahunan pada saat permintaan pengiriman ternak meningkat memperparah antrean dan kemacetan di Pelabuhan Lembar dan Gili Mas. Ia mendesak pemerintah untuk menambah satu hingga dua unit kapal khusus untuk rute Bima-Jakarta atau Bima-Surabaya guna mengurai kepadatan distribusi dan mencegah kerugian akibat keterlambatan.
"Kalau rapat seperti ini tidak ada hasilnya, kasihan petani. Intinya kami ingin ada solusi, tambahkan kapal. Masa negara sebesar ini menghadirkan satu kapal saja susah?" tegasnya.
Potensi 20 Ribu Ekor Sapi Jelang Iduladha, Waspadai Dampak Fatal
Senada dengan itu, Ketua ASDP Bima-Dompu Indonesia, Dr. Furkan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh pihak, namun menekankan perlunya langkah konkrit berupa penambahan armada dan peninjauan ulang jadwal docking kapal.
"Informasi yang kami dapat di rapat, ada docking. Kami berharap tolonglah ditunda dulu. Kenapa setiap tahun seperti ini?" ucapnya.
Dr. Furkan mengungkapkan bahwa pada tahun ini diperkirakan sekitar 20 ribu ekor sapi akan melalui pelabuhan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar luar daerah, terutama menjelang Hari Raya Iduladha. Ia mengingatkan kejadian tahun sebelumnya di mana sejumlah ternak meninggal dunia akibat penantian yang terlalu lama akibat terbatasnya kapal, diperparah dengan kekurangan air dan pakan di lokasi antrean.
"Kami sangat berharap ada mitigasi serius. Kalau terjadi penumpukan karena masalah armada, kendala kami adalah kekurangan air dan pakan. Jika pemerintah berkenan, bantu kami," jelasnya.
Selain kepentingan peternak, ia juga menekankan bahwa sektor perdagangan sapi memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTB, sehingga kelancaran distribusi berdampak langsung pada ekonomi daerah.
Harapkan Tindak Lanjut Strategis
Para peternak berharap hasil rapat tidak hanya sebatas diskusi, melainkan segera diwujudkan dalam bentuk kebijakan strategis. Antara lain penambahan armada kapal, penjadwalan docking yang lebih fleksibel sesuai dengan musim pengiriman, serta penyediaan fasilitas pendukung seperti air bersih dan pakan ternak di area pelabuhan.
"Yang kami inginkan sederhana, ada solusi nyata. Tambah kapal, atur jadwal dengan baik, dan lindungi peternak dari kerugian," tutup Dr. Furkan.
(Tim).



