![]() |
| Wali Kota Bima, H. A. Rahman, S.E., saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Penguatan Ekosistem Inovasi Daerah di Aula Maja Labo Dahu Kantor Wali Kota Bima, Kamis (4/6/2026). Dalam kesempatan itu, Rahman menargetkan setiap perangkat daerah melahirkan minimal dua inovasi nyata dan berdampak, guna meningkatkan pelayanan publik sekaligus mengamankan peluang insentif keuangan dari pemerintah pusat hingga senilai Rp7 miliar. |
KOTA BIMA, MIMBARNTB – Pemerintah Kota Bima secara tegas menargetkan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melahirkan minimal dua inovasi unggulan. Langkah ini didorong sebagai strategi utama meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memaksimalkan peluang mendapatkan insentif keuangan dari pemerintah pusat yang nilainya dapat mencapai Rp7 miliar.
Target tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Bima, H. A. Rahman, S.E., saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Ekosistem Inovasi Daerah yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Bima di Aula Maja Labo Dahu, Kantor Wali Kota Bima, Kamis (4/6/2026).
Forum strategis ini dihadiri oleh para pimpinan perangkat daerah, camat, kepala puskesmas, Direktur RSUD Kota Bima, serta para inovator daerah yang telah berkontribusi melahirkan berbagai terobosan pelayanan.
Dalam arahannya, Rahman yang akrab disapa Aji Man, menegaskan bahwa birokrasi tidak boleh hanya berjalan pada rutinitas administrasi semata. Setiap elemen pemerintahan dituntut menghadirkan solusi nyata yang menjawab kebutuhan dan permasalahan masyarakat.
“Saya minta, setiap perangkat daerah minimal memiliki dua inovasi yang bisa dikembangkan. Ingat, inovasi itu harus menjadi solusi yang memudahkan pelayanan, bukan sekadar gagasan indah di atas kertas yang tidak tersentuh masyarakat,” tegas Rahman.
Ia menjelaskan, saat ini tingkat inovasi menjadi salah satu indikator penilaian kinerja daerah yang sangat krusial. Di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah, berbagai kompetisi dan penilaian yang digelar pemerintah pusat menjadi peluang emas untuk mendapatkan tambahan anggaran pembangunan.
Rahman merinci, daerah yang berhasil meraih predikat sebagai Kota Paling Inovatif berhak memperoleh insentif keuangan hingga mencapai Rp7 miliar. Selain dari sektor inovasi, insentif pusat juga terbuka bagi daerah yang berhasil mencatatkan kinerja baik dalam menekan angka kemiskinan, penurunan angka stunting, pengendalian tingkat pengangguran terbuka, hingga menjaga stabilitas inflasi daerah.
“Peluang-peluang seperti ini harus kita kejar dan manfaatkan bersama. Setiap rupiah insentif yang kita peroleh nantinya akan dikembalikan lagi untuk mendanai pembangunan dan meningkatkan pelayanan dasar bagi warga Kota Bima,” ujarnya.
Data yang dipaparkan BRIDA Kota Bima menunjukkan tren positif yang menggembirakan. Jika pada tahun 2024 tercatat terdapat 162 inovasi, angka tersebut mengalami kenaikan signifikan menjadi 234 inovasi pada tahun 2025. Bahkan, sejumlah inovasi unggulan Kota Bima telah berhasil dipresentasikan dan mendapatkan apresiasi dalam berbagai forum tingkat nasional.
Namun demikian, Kepala BRIDA Kota Bima menekankan bahwa tantangan ke depan bukan lagi soal kuantitas, melainkan kualitas dan dampak nyata. Peningkatan jumlah inovasi harus diimbangi dengan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Perkembangan ini patut diapresiasi. Namun tantangan terbesar kita saat ini adalah memastikan setiap inovasi yang lahir mampu menyelesaikan persoalan publik dan benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan, bukan sekadar formalitas administrasi,” ungkapnya.
Guna memacu semangat berinovasi, Wali Kota Bima mengungkapkan rencana pemberian penghargaan khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang karyanya berdampak besar. Skema penghargaan ini akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah, termasuk kemungkinan pemberian tambahan penghasilan pegawai (TPP) bagi inovator yang berprestasi di tingkat kota, provinsi, hingga nasional.
Menurut Rahman, insentif tersebut penting untuk membangun iklim kompetitif yang sehat dan memotivasi aparatur agar lebih kreatif. Ia pun mencontohkan keberhasilan inovasi SiCerah yang dinilai sukses memberikan kemudahan layanan sekaligus mendapatkan pengakuan nasional.
“Inovasi SiCerah adalah bukti nyata bahwa karya yang lahir dari daerah bisa memberikan manfaat luas dan diakui secara nasional. Ini harus menjadi inspirasi dan standar bagi perangkat daerah lainnya,” ujar Rahman.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kota Bima menargetkan terbentuknya ekosistem inovasi yang semakin kuat dan berkelanjutan. Langkah ini ditempuh agar setiap perangkat daerah senantiasa menghadirkan terobosan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan publik serta mempercepat laju pembangunan daerah.
(Tim MIMBARNTB)


