![]() |
| Sekretaris Gapensi Kota Bima, juga Ketua PP Kota Bima, Angga Taher, saat memberikan keterangan pers terkait lonjakan harga semen yang terus merangkak naik meski telah dilakukan sidak oleh Dinas Perindag Kota Bima. (Foto: Dok. MIMBARNTB). |
KOTA BIMA – Upaya pengawasan yang dilakukan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima dinilai tidak membuahkan hasil nyata. Alih-alih menstabilkan harga, semen justru semakin melambung tinggi dan membebani pelaku usaha konstruksi.
Keluhan ini disampaikan Sekretaris Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Bima, juga Ketua PP Kota Bima, Angga Taher, saat dikonfirmasi MIMBARNTB, Rabu (24/6/2026). Ia menyatakan kekecewaannya lantaran sidak yang digelar beberapa waktu lalu tidak memberikan dampak signifikan.
“Saya pun merasakan langsung saat membeli semen. Harga bukannya turun, malah terus merangkak naik. Kini semen merek Bosowa dijual Rp92.500 per sak,” ungkapnya.
Angga menilai pengawasan yang dilakukan Dinas Perindag terkesan tidak serius dan tidak tegas. Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa tindakan nyata, maka pelaku usaha konstruksi akan semakin dirugikan dan kelancaran proyek pembangunan berisiko terganggu.
“Kalau pemerintah hanya diam dan tidak mengambil langkah tegas, maka beban ada di pundak kami para kontraktor. Harga yang tidak wajar ini jelas memakan biaya operasional yang lebih besar,” tegasnya.
Dari pantauan di lapangan, pihak toko bangunan Sumber Mas membenarkan harga semen Bosowa saat ini berada di angka Rp92.500 per sak. Namun, mereka enggan memberikan keterangan lebih lanjut terkait ketersediaan stok.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Diskoperindag Kota Bima yang dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp belum memberikan tanggapan resmi terkait lonjakan harga tersebut. (Tim).


